Kamis, 02 Mei 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR

RUMAH SI PITUNG - MARUNDA, JAKARTA UTARA

Hasil gambar untuk rumah si pitung

1. Sejarah

  • Sejarah Kawasan/Lokasi
Rumah Si Pitung adalah obyek wisata sejarah dan budaya yang terletak di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Rumah yang terletak di lahan seluas 700 meter persegi ini sebenarnya bukan rumah kelahiran atau milik keluarga Si Pitung, melainkan milik Haji Syafiuddin, seorang pengusaha “sero” yang menurut masyarakat setempat pernah dirampok oleh Pitung, jawara Betawi yang terkenal akan perjuangannya melawan ketidakadilan penguasa Hindia Belanda di Betawi, dengan merampok orang-orang kaya dan membagikan hasil rampokannya kepada rakyat miskin. Berdasarkan peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 9 tahun 1999, rumah ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.


  • Sejarah Arsitektur
Rumah panggung sepanjang 15 meter, lebar 5 meter dengan tinggi 2 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Rumah Tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan dua buah beranda, masing-masing di sisi depan dan belakang rumah yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter. Rumah ini memiliki empat buah pintu dan sepuluh buah jendela. Saat ini di dalam Rumah Si Pitung terdapat beberapa perabot khas Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, permainan congklak, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan berasal dari interior asli rumah, melainkan sumbangan dari berbagai pihak. Di dinding rumah terdapat panel yang menceritakan kisah Si Pitung, yang diambil dari artikel “Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?” yang ditulis Ridwan Saidi dan dimuat di Majalah Tani pada tahun 2009. Rumah ini pernah direnovasi beberapa kali. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1972, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Beberapa penggantian yang dilakukan pada renovasi ini adalah perubahan interior rumah dari semula memiliki 3 kamar menjadi tinggal 1 kamar, penggantian lantai bambu menjadi lantai kayu jati, dan pengecatan dinding kayu rumah dengan warna merah delima. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010, dengan penambahan panggung beton setinggi 50 cm, untuk memastikan rumah ini tidak terendam banjir saat air pasang menggenangi pekarangan dan kolong rumah.
  • Sejarah Peristiwa
Bangunan ini adalah Bangunan Cagar Budaya yang pada tahun 1972 diambil alih pengelolaannya oleh Pemda DKI Jakarta. Agar tak terkikis oleh zaman, Rumah Si Pitung sudah beberapa kali direnovasi terutama pada bagian pondasinya. Kondisi bangunan tidak lagi orisinil hanya saja secara model masih sama. Benda-benda yang dipamerkan adalah replika, karena yang aslinya sudah termakan usia.

2. Telaah Pustaka
  • Nama : Rumah Si Pitung
  • Alamat : Jl. Kampurng Marunda Pulo, RT. 02/RW. 07, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara
  • Kelurahan : Marunda
  • Kecamatan : Cilincing
  • Koordinat/UTM : 6°05’49.02”S 106.57’32’49°E
  • Batas-batas : Pemukiman (Utara, Timur, dan Barat) dan Pantai Marunda (Selatan)
  • Status Kepemilikian : Tanah Milik Warga Luar Batang
  • Fungsi : Bangunan Cagar Budaya
3. Gambaran Kawasan
  • Eksisting
Kondisi linkungan saat ini :
Kelurahan Marunda memiliki fungsi utama sebagai tempat hunian bagi masyarakat nelayan, karena letaknya berada di pesisir pantai yang sangat terbuka. Berdasarkan data yang di himpun sampai saat ini, masyarakat Marunda sebagian besar hidup sebagai pencari ikan atau sebagai nelayan.

Kondisi keterawatan secara umum :
Kondisi keterawatan Rumah si Pitung sampai saat ini masih terawat dengan baik sehingga masih banyaknya pengunjung untuk melakukan wisata,

Kondisi keterancaman :
Fasilitas pengunjung seperti akses jalan menuju Rumah si Pitung kurang memadai terutama untuk lebar jalan hanya 4 meter dan kondisi aspal yang terkikis akibat genangan genangan air. Selain itu objek bangunan ini tidak memiliki lahan parkir hal ini akan menjadikan wisatawan enggan berkunjung.

Perubahan fungsi dan bentuk :
Pada November 2012 lalu, rumah Si Pitung itu direnovasi oleh Dinas Kebudayaan Jakarta Utara. Namun, renovasi yang menghabiskan Rp 2,1 miliar itu hanya pada bangunan lain dan halaman serta gerbang atau pagar yang ada di sekeliling rumah Si Pitung saja.


Sumber : Google Maps

Susunan masa bangunan Rumah Si Pitung ialah tunggal, dengan luas ± 700 m2 dan halaman serta jalan sirkulasi frontal langsung ke bangunan.
  • Gaya atau Langgam



Sumber : https://services.sportourism.id/fileload/rumah-si-pitung-di-marundajpg-hMks.jpg?q=75

Gambar diatas adalah gambar bangunan cagar budaya Rumah Si Pitung. Meskipun legenda Si Pitung berasal dari tanah Betawi tapi rumah yang dikenal sebagai Rumah Si Pitung ini tidak menyerupai rumah adat Betawi melainkan rumah panggung dengan gaya arsitektur Bugis, yang sesuai dengan kondisi wilayah pesisir Jakarta yang sering dilanda rob akibat air laut pasang. Rumah Si Pitung hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai, oleh karenanya rumah ini mengusung tema rumah panggung.

  • Bentuk Bangunan


Sumber : https://services.sportourism.id/fileload/rumah-si-pitung-di-marundajpg-hMks.jpg?q=75

Seperti gambar di atas Rumah Si Pitung berbentuk rumah panggung dengan gaya arsitektur Bugis. Gaya arsitektur rumah panggung ini sesuai dengan lokasi rumah yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, sehingga berpotensi terkena ombak besar atau banjir rob. Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah ini dirampok Pitung pada tahun 1883, rumah ini diperkirakan berdiri pada abad 19. Rumah panggung sepanjang 15 meter, lebar 5 meter dengan tinggi 2 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Rumah Tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan dua buah beranda, masing-masing di sisi depan dan belakang rumah yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter. Rumah ini memiliki empat buah pintu dan sepuluh buah jendela.
Atapnya berbentuk pelana, dan struktur atap rumah tipe gudang tersebut tersusun dari kerangka kuda-kuda. Dan memiliki perisai yang ditambahkan oleh satu elemen struktur atap, yaitu jure.

  • Interior
 
Interior Serambi Depan
   Sumber : http://www.f3ri.net/2014/10/rumah-si-pitung-jagoan-betawi.html

    Bagian serambi depan, terdapat beranda  yang si sisi kiri berisikan 4 buah kursi dan 1 buah meja bundar, diatasnya terdapat sisa sisa bekas makanan jaman dulu dalam sebuah toples yang terbungkus kertas minyak kemudian di sisi kananya terdapat sebuah patung dengan sabuk khas orang betawi beserta peci dan kain sarung.

Interior Ruang Tamu
Sumber : http://www.f3ri.net/2014/10/rumah-si-pitung-jagoan-betawi.html

Selanjutnya, adalah ruang tamu layaknya sebuah ruang tamu dalam sebuah rumah dilengkapi dengan kursi tua dengan 2 buah lubang udara di sisi kanan dan kiri dinding pembatas, serta lukisan yang pengantin betawi, panjang dan lebar dari ruangan ini sama seperti beranda depan pada ruang pertama.

 Interior Kamar Tidur
Sumber : http://www.f3ri.net/2014/10/rumah-si-pitung-jagoan-betawi.html

Pada bagian kamar tidur, nampak sebuah meja rias dengan kaca bulat besar beserta kursi, lalu sisi sebelah kanan bersebelahan dengan sebuah jendela ada  sebuah dipan atau tempat tidur lengkap dengan kelambu, serta tikar pandan.

 Interior Dapur
Sumber : http://www.f3ri.net/2014/10/rumah-si-pitung-jagoan-betawi.html

   Unsur material interior yang ada pada bangunan Rumah si Pitung ini hampir seluruhnya menggunakan kayu jati. Misalnya pada bagian lantai dan dinding menggunakan papan kayu jati dengan finishing di cat warna merah marun.

  • Struktur dan Konstruksi
Struktur Rumah Si Pitung
Sumber : http://www.f3ri.net/2014/10/rumah-si-pitung-jagoan-betawi.html

Struktur pondasi pada bangunan Rumah Si Pitung ini menggunakan umpak dengan tiang bermaterial kayu sebagai penopang berjumlah 40 buah dan tinggi 2 meter. Selain itu pada bagian atap seperti balok, kolom, dan siku penopang atap juga menggunakan material kayu.

4. Riwayat Pelestarian

Rumah si Pitung ini sudah dilakukan upaya pelestarian berdasarkan Perda DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999, di bawah naungan Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Dinas Pariwisata dan Budaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Karena bangunan ini memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Betawi. Berikut riwayat status penetapan :
  • No. Penetapan : Nasional
  • Tanggal Penetapan : 1998-06-16 00:00:00.000
  • Pengelola : Museum Kebaharian Jakarta Dinas Pariwisata dan Budaya Pemerintah  Provinsi DKI Jakarta
  • Batas Barat : Rumah penduduk
  • Batas Selatan : Empang
  • Batas Timur : Empang
  • Batas Utara : Teluk Jakarta

Sumber : 

Minggu, 10 Februari 2019

KRITIK ARSITEKTUR SPLIT HOUSE SEBAGAI JAWABAN PERMASALAHAN HUNIAN LAHAN SEMPIT ( SPLOW HOUSE KARYA DELUTION ARCHITECTS )


BAB I
PENDAHULUAN

Pertumbuhan penduduk merupakan permasalahan yang timbul di kota-kota besar yang sedang berkembang, khususnya Ibukota DKI Jakarta. Pertumbuhan penduduk yang signifikan membuat padatnya pemukiman yang menimbulkan lahan-lahan untuk tempat tinggal semakin kecil. Karena  hal tersebut, ruang pada suatu hunian atau tempat tinggal sangat minim dan terjadinya ketidakseimbangan antara kegiatan penghuni dengan jumlah penghuni. Dengan bertumbuhnya penduduk, jumlah keluarga pun juga meningkat. Dengan begitu sebuah hunian harus membuat sebuah keluarga nyaman. Nyaman dalam hal ini mempunyai maksud, nyaman sebagai tempat tinggal, nyaman untuk menjalin keluarga, dan membuat sebuah hunian dengan budget yang cukup. Pada hal seperti inilah, Arsitektur dapat berbicara dan dapat menyelesaikan masalah tersebut.
Permasalahan tentang pertumbuhan penduduk yang mempersempit ruang hunian dapat di selesaikan dengan cara Split House. Split House merupakan sebagai gaya rumah dimana setiap lantai saling tergantung. Secara umum, biasanya ada dua tangga pendek yang menyambungkan dua lantai dengan ketinggian level yang berbeda. Perbedaan level lantai namun tidak benar-benar berada di tingkat lantai yang berbeda merupakan ciri khas dari rumah split level. Desain rumah split level mulai dikenal dan populer pada pertengahan abad ke-20 di wilayah Amerika Utara. Rumah split level kala itu banyak digunakan oleh masyarakat pinggiran kota berkembang yang memang memiliki lahan berkontur. Saat perang dunia kedua terjadi, gaya rumah split level makin populer, dan kemudian menyebar hingga saat ini.
Seperti karya Arsitek Indonesia yaitu Delution Architects. Delution Architects merancang sebuah rumah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan yang menggunakan konsep Split House. Split House tersebut dibangun dilahan 120 meter persegi dengan budget yang terbatas. Karena banyak aspek yang dimasukan kedalam hunian tersebut, Delution Architects mendapatkan penghargaan International Architizer A+ Awards 2017 kategori Arsitektur dan Hunian Kecil versi Public Choice. Maka dari itu, hal tersebut menarik perhatian banyak orang dan sebagai pandangan masyarakat untuk membuat rumah dilahan yang terbatas dan dengan budget yang terbatas namun kapasitas hunian dapat memungkinkan sebuah keluarga atau penghuni melakukan aktivitasnya dengan nyaman.



BAB II
METODE KRITIK ARSITEKTUR

Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apreasiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.  Kritik dalam Arsitektur terbagi menjadi beberapa macam, diantaranya :
1.    Kritik Normatif
2.    Kritik Interpretif
3.    Kritik Impresionis
4.    Kritik Deskriptif
5.    Kritik Terukur

Dalam kritik arsitektur yang penulis lakukan menggunakan jenis Kritik Normatif. Kritik Normatif (Normative Criticism) Hakikatnya kritik ini adanya keyakinan bahwa di lingkungan dunia manapun bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, sandaran sebagai sebuah prinsip. Norma juga berupa suatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Kritik Normatif dibagi dalam beberapa metode, yaitu :                                                                                                    
·      Kritik Doktrinal (Doctrinal Criticsm) Norma yang bersifat general, pernyataan yang tak terukur.
·      Kritik Terukur (Measured Criticsm) Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif.
·      Kritik Tipical (Typical Criticism) Norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu katagori bangunan yang spesifik.
·      Kritik Sistematik (Systematic Criticism) Norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan.                           
 
Dalam kritik arsitektur normative terdapat hakikat yang diantaranya :
·      Adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.
·      Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat dinilai.
·      Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik, tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan.
·      Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi.

Dalam kritik arsitektur ini, penulisa menggunakan metode Kritik Normatif Tipikal yang dimana memiliki elemen Kritik Tipikal, diantaranya :

a.    Struktural (Struktur)
Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama.
• Jenis bahan
• Sistem struktur
• Sistem Utilitas dan sebagainya.

b.   Function (Fungsi)
Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama.
• Kebutuhan pada ruang kelas
• Kebutuhan auditorium
• Kebutuhan ruang terbuka dsb.

c.    Form (Bentuk)
Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain.


BAB III
KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Split House
Rumah split level bisa didefinisikan sebagai gaya rumah dimana setiap lantai saling tergantung. Secara umum, biasanya ada dua tangga pendek yang menyambungkan dua lantai dengan ketinggian level yang berbeda. Perbedaan level lantai namun tidak benar-benar berada di tingkat lantai yang berbeda merupakan ciri khas dari rumah split level.
Desain rumah split level mulai dikenal dan populer pada pertengahan abad ke-20 di wilayah Amerika Utara. Rumah split level kala itu banyak digunakan oleh masyarakat pinggiran kota berkembang yang memang memiliki lahan berkontur. Saat perang dunia kedua terjadi, gaya rumah split level makin populer, dan kemudian menyebar hingga saat ini. Dibalik sebuah konsep Split House terdapat kelebihan dan kekurangan.

A.   Kelebihan Split House
1.    Rumah split level memberikan kesan lebih terbuka

Sama seperti halnya saat memberikan void pada rumah, kehadiran rumah split level memberikan suasana lebih lapang dan terbuka pada hunian. Hal ini juga membuat rumah split level lebih terasa akrab dan homey karena setiap ruang yang terhubung dengan tangga tanpa sekat masif. Selain itu, komunikasi antar penghuni rumah menjadi jauh lebih mudah dan dekat dengan memanfaatkankonsep rumah split level.
2.    Memberikan ruang-ruang lebih untuk fungsi tambahan

Pada rancangan rumah split level yang baik, kehadiran rumah split level bisa memberikan efisiensi ruang yang baik. Kamu bahkan bisa mendapatkan ruang-ruang lebih untuk fungsi tambahan dengan memanfaatkan konsep rumah split level. Selain fungsi tambahan, perbedaan level juga membantumu memberikan pemisahan fungsi dan zona pada setiap ruang yang lebih baik

3.    Rancangan rumah split level memberikan kesan lebih dinamis

Tentu saja, dibanding menghadirkan rumah yang datar, rumah split level jauh lebih terkesan dinamis dan hidup. Dengan konsep rumah split level, jangan khawatir suasana dalam rumah akan terasa monoton dan membosankan. Kamu juga bisa bermain lebih banyak pada interior ruangan saat memiliki variasi level pada hunianmu.

4.    Sirkulasi udara dan cahaya yang lebih baik

Karena sifatnya yang terbuka, rumah split level secara tak langsung akan memberikan sirkulasi udara dan juga pencahayaan yang lebih baik pada hunian. Nggak cuma mengatur sirkulasi udara dan cahaya dalam ruangan, penerapan yang tepat membuat rumah split level juga bisa menangkap sirkulasi udara dan pencahayaan alami yang jauh lebih baik daripada rumah tanpa perbedaan level lantai seperti rumah split level.

5.    Rumah split level bisa menjadi solusi lahan berkontur

Populer di area yang memiliki lahan berkontur, untuk kamu yang memiliki lahan yang berkontur tentu akan menjadi pekerjaan lebih jika kamu harus meratakan lahan hanya untuk memberikan konsep rata. Solusi lain yang lebih efisien untuk menyiasati lahan berkontur seperti ini adalah rumah split level. Rumah split level membuat pengolahan lahan berkontur yang lebih efektif.

B.   Kekurangan Split House
1.    Sistem konstruksi rumah split level yang lebih rumit

Dengan perbedaan level yang bervariasi dan juga konektor berupa tangga sudah bisa dipastikan bahwa konstruksi dari rumah split level akan jauh lebih rumit alias tak sesederhana rumah konvensional. Konstruksi yang rumit ini juga berarti bahwa rumah split level mungkin akan membutuhkan biaya lebih dibandingkan rumah biasa.

2.    Rumah split level bisa dikatakan “tidak ramah” untuk balita dan lansia.

Dikarenakan banyaknya penggunaan anak tangga dan juga perbedaan level, jelas bahwa rumah split level sangat tal dianjurkan untuk dihuni oleh keluarga yang memiliki anggota keluarga lansia ataupun balita karena resiko terjadinya kecelakaan akan jauh lebih tinggi terjadi pada rumah split level.

BAB IV
PEMBAHASAN



Sumber : http://furnizing.com/article/splow-house-rumah-dengan-mezanin-karya-arsitek-muda-indonesia-yang-masuk-nominasi-penghargaan-internasional

Splow house, singkatan dari Split-Grow House merupakan rumah yang dibangun di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Rumah ini merupakan karya dari Delution Arsitek. Memiliki konsep sebagai rumah yang dapat berkembang, menjadi tantangan untuk mendesain rumah yang nyaman untuk dihuni dengan luasan 120 meter persegi dengan budget terbatas.


Sumber : http://furnizing.com/article/splow-house-rumah-dengan-mezanin-karya-arsitek-muda-indonesia-yang-masuk-nominasi-penghargaan-internasional

Dengan lebar 6 meter dan panjang 15 meter, rumah didesain agar mendapatkan pencahayaan alami dan sirkulasi udara dari luar yang tentunya akan menghemat energi dari penggunaan lampu dan pendingin ruangan. Luasan yang kecil tidak menjadi masalah untuk memiliki ruang yang dibutuhkan dengan biaya terbatas. Rumah ini memungkinkan untuk penambahan ruang dikemudian hari ketika pemilik rumah memiliki budget lagi.


Sumber : http://furnizing.com/article/splow-house-rumah-dengan-mezanin-karya-arsitek-muda-indonesia-yang-masuk-nominasi-penghargaan-internasional

Rumah yang tampak seperti dua lantai ini memiliki tiga tingkat di dalamnya. Melalui konsep splitnya, tiap lantai dihitung sebagai setengah yang dianggap sebagai mezanin. Sehingga terdapat lima lantai mezanin di dalam rumah ini. Setiap lantainya terhubung dengan tangga dan voidnya yang menjadi sumber untuk sirkulasi pencahayaan dan udara secara alami. Dari void ini juga orang yang berada di setiap lantainya dapat saling berkomunikasi dari lantai yang berebeda.



Pada lantai pertama mezanin terdapat ruang makan dan juga dapur terbuka. Ruangan ini pun juga terhubung dengan kamar tidur tamu dan juga kamar mandinya. Pada ruang ini lantai didesain dengan ubin marmer yang berwarna abu-abu. Furniture didesain dengan material lightwood. Seluruh ruangan memiliki dinding berwarna putih untuk memaksimalkan penerangan pada ruangan.



Terdapat beberapa keunikan pada ruangan ini seperti meja lipat pada ruang makan yang memungkinkan untuk memberikan meja yang lebih panjang. Rak penyimpanan yang terdapat di samping tangga dan juga di anak tangganya. Yap! Pada tangga betonnya juga terdapat rak yang dapat dibuka dengan cara ditarik sehingga memberikan luang lebih untuk penyimpanan barang.



Untuk lantai mezanin kedua, merupakan lantai yang disuguhkan pertama kali ketika orang berkunjung ke dalam rumah. Terdapat ruang tamu yang sekaligus ruang baca di sudut ruangan. Terdapat pula jendela kaca lipat untuk menuju ke halaman samping rumah. Lalu untuk lantai mezanin ketiganya terdapat kamar tidur anak dan kamar mandinya. Dilengkapi pula dengan koridor di depan pintu kamar. Sehingga dapat digunakan juga sebagai area bersantai.



Kamar mandi untuk lantai anak ini diberikan fasilitas wastafel, kloset dan juga area shower. Ukuran kamar mandi terbilang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar. Material pada kamar mandi memberikan suasana yang dingin dan juga syahdu. Berbeda dengan material di luar ruangannya. Bentuk kaca dan wastafelnya begitu unik dan tidak biasa. Exhaust fan juga digunakan pada ruangan untuk sirkulasi udara.



Naik lagi ke lantai selanjutnya, kamar tidur utama terdapat di area ini. Masih dengan adanya koridor di depan kamarnya yang digunakan untuk meletakkan meja dan rak. Koridor memang difungsikan sebagai area sirkulasi publik, penghubung tiap lantainya.





Jendela yang besar pada fasad depan rumah menjadi salah satu pemandangan asik di dalam kamar. Memberikan pencerahan pada kamar tidur. Dilengkapi dengan tirai putih dan abu-abu. Selain itu juga terdapat ventilasi udara kecil di dinding samping kamar. Pada ruangan ini juga terdapat kamar mandi utama.


Bentukan kamar mandi ini berbeda dengan kamar mandi lainnya di dalam rumah. Ubin hitam pada lantai dan juga dinding kaca yang menghadap ke area closet penyimpanan baju dalam ruangan. Memang terkesan terbuka akan tetapi karena ini adalah kamar tidur utama yang merupakan area privasi kedua orang tua, maka tidak akan jadi masalah.





Akhirnya sampai pada lantai yang paling teratas. Lantai ini digunakan sebagai kamar tidur pembantu dan juga area mencuci dan menjemur. Kamar tidur dan kamar mandinya berukuran lebih kecil dari yang lain. Terlihat juga dari koridor terdapat jendela dan juga ventilasi di dinding atas bangunan rumah.




Gambar di atas menunjukkan skema sirkulasi udara dan cahaya pada rumah. Ventilasi dan juga pintu serta jendela di dalam rumah menjadi solusi untuk pertukaran udara secara menyilang (cross-ventilation).




Halaman selebar satu meter yang terletak di bagian samping rumah ini sangat membantu untuk terjadinya pertukaran udara sehingga rumah lebih sejuk. Selain itu juga area ini berfungsi sebagai tempat meletakkan pompa air, sepeda serta peralatan lainnya, dan juga menjadi akses untuk pembantu ke dalam rumah. Pada halaman ini arsitek mendesain dasar lantainya dengan biopore (lubang air) yang cukup banyak sehingga dapat menghindari kebanjiran pada lantai mezanin paling bawah karena tinggi lantainya yang berada rendah dibandingkan jalan di luar rumah.



Kembali ke bagian depan rumah. Lantai kamar tidur utama dibuat melayang dengan sistem cantilever selebar 2,5 meter. Sehingga area ini dapat melingkupi area teras dan parkir kendaraan di depannya. Keunikan pada fasad depannya juga terdapat pada kaca yang diletakkan di dinding bagian bawah rumah. Kaca tersebut didesain agar orang yang berada di ruang makan atau dapur dapat mengetahui orang yang datang ke rumah dengan melihat pada kacanya. Ini juga menjadi alternatif pencahayaan alami pada rumah.

Rumah yang terlihat kecil dan cukup luas di dalam ini tidak hanya sekedar nyaman saja namun juga berhasil mendapatkan penghargaan taraf internasional. Delution Architect melalui karyanya yaitu splow house meraih penghargaan International Architizer A+ Awards 2017 kategori Arsitektur dan Hunian Kecil versi Public Choice. Architizer A+ Awards sendiri adalah penghargaan International yang tidak hanya melibatkan komunitas arsitektur, namun juga fashion, penerbitan, desain produk, pengembangan real estate, dan teknologi dari seluruh dunia. Sebagai salah satu nominasi dari Indonesia dan pesaing dari seluruh dunia, tentunya para arsitek muda ini berhasil membuat bangga tanah air.




BAB 5
KESIMPULAN

Dengan permasalahan meningkatnya jumlah penduduk yang signifikan di Ibukota DKI Jakarta ini terutama pada aspek hunian atau rumah tinggal dapat diselesaikan dengan konsep Split House. Split House tersebut dapat memberikan ruang yang melebihi kapasitas lahan dengan memaksimalkan ruang-ruang Split. Hal tersebut pun dapat memberikan kesan luas pada lahan yang sempit dibantu dengan pewarnaan yang tepat. Karena hal-hal yang telah di jelaskan, Split House adalah konsep hunian yang tepat bagi kota yang sedang berkemban lalu terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan mempersempit lahan untuk hunian-hunian.

DAFTAR PUSTAKA